Ini Lho Gagasan Nadiem Makarim Soal Pendidikan di Era Digital

Pemilihan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menjadi harapan baru bagi pemerintahan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia.

Sebelum dirinya dilantik menjadi menteri, yakni saat menjadi CEO Gojek, Nadiem telah menyoroti banyak hal yang harus dilakukan Indonesia agar mampu bersaing dengan negara lain di era digital seperti saat ini. Yang paling utama menurutnya adalah investasi dalam sektor sumber daya manusia (SDM). Apalagi Indonesia akan menghadapi bonus demografi pada tahun 2030.

Nadiem menambahkan bahwa terdapat beberapa hal yang sifatnya wajib (mandatory) di dalam kurikulum pendidikan nasional. Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar ke empat dunia tidak seharusnya hanya menjadi target pasar saja, melainkan harus juga menjadi pemain dalam dunia teknologi.

Berikut ini adalah sejumlah Nadiem untuk dunia pendidikan di Indonesia:

1. Penguasaan Bahasa Inggris

Penguasaan bahasa Inggris harus mandatory/wajib di sekolah karena lewat bahasa Inggris siswa akan mampu mengonsumsi konten dunia melalui jendela internet dan online.

Siswa yang mampu memahami bahasa Inggris akan mampu mencari ilmu pengetahuannya sendiri. Menurut Nadiem, yang terpenting untuk saat ini adalah skill. Bagaimana siswa berpikir, bagaimana berstruktur, bagaimana problem solving, dan bagaimana mereka mampu berkolaborasi.

Namun, jika ingin menjadi dokter, engineer, ada expertise yang diperlukan, mereka tetap memerlukan pendidikan formal. Tidak bisa mengandalkan skill saja. Bahkan perguruan tinggi harus mere-learn setiap lima tahun dikarenakan perubahan dalam dunia industri yang begitu cepat.

2. Kemampuan Programming

Bahasa koding atau programming juga menjadi hal yang wajib. Hal ini dikarenakan dunia nyata dikendalikan oleh kode-kode virtual. SDM Indonesia harus mampu menguasai bahasa koding dari sekolah.

3. Ilmu Statistik

Di era digital, kata Nadiem, masyarakat akan disajikan dan diajak berbicara mengenai data. Jika seseorang tidak dapat menganalisis data, tidak bisa melihat caps, tidak dapat melihat trend secara kritikal, maka orang itu akan terus dibodohi oleh data-data tersebut sehingga akan semakin tertinggal.

4. Ilmu Psikologi

Psikolog, menurut Nadiem, adalah salah satu unsur dari desain. Kemampuan bahasa pemrograman tidaklah cukup, mereka harusmengetahui psikologi. Misalnya ketika seorang programmer membuat software untuk rumah sakit, maka dia harus mengerti seluk beluk rumah sakit dan user atau pelanggan RS.

Psikologi itu unsur desain termasuk UX desain dan UI desain. Psikologi akan mengajari kita bagaimana men-engage, bagaimana men-engage suatu supplier di dalam sebuah platform yang akan dibangun.

5. Nasionalisme Sempit

Menurut Nadiem nasionalisme sempit lebih berbahaya dari masalah ekonomi. Lawannya adalah keterbukaan. Indonesia harus mengundang puluhan ribu engineer dari Silicon Valley, dari Bangalore, dari Beijing secepat mungkin.

Tujuannya adalah teknologi transfer. Mereka dapat belajar agar mampu mengejar ketertinggalannya. Hal itu dilakukan untuk menciptakan komunitas world class. Selain daripada itu, dilakukannya edukasi dari profesor luar negeri.

Nadiem mengingatkan bahwa potensi ekonomi digital Indonesia memang benar-benar nyata. Kesuksesan Indonesia di (ekonomi digital) Asia Tenggara sudah mutlak dan pasti karena kita adalah player terbesar. Pendidikan nasional, kata dia, harus mendukung dalam rangka terciptanya “truly economy digital super power”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *